Wednesday, February 26, 2014

Cinta Harus Begini?


"Kamu yakin, yang?"
"Iya tentu saja aku yakin. Aku ingin hal baru di dalam hubungan kita ini. Setidaknya kamu melakukan demi ku dan tulus dari hatimu" Jawab Kukun atas pertanyaan Titin.
"Aku tulus. Sangat tulus. Terlebih ini memang belum pernah kita lakukan. Hanya saja, apa kamu akan bertanggung jawab? Aku masih muda. Teramat muda. Untuk hubungan ini saja aku belum bisa menceritakan nya pada kedua orang  tuaku" tatapan mata Titin begitu dalam ke mata Kukun.
"Dengarkan aku, sayang. Apapun resikonya, aku pasti bertanggung jawab. Percayalah" Kukun menjawab sembari memegang kedua tangan Titin.
Titin tertegun. Hanya mampu diam.

Sambil menunduk, Titin berkata "Kun? Apakah cinta harus melakukan ini?"
Kukun tersenyum mendengar pertanyaan kekasih hatinya yang baru akan beranjak umur 15 tahun.
"Bagiku iya. Karena ini lah caraku untuk mengetahui, apakah benar cintamu itu tulus untuk ku"
"Tapi apa tidak ada cara lain selain ini? Aku terlalu takut, Kun" rintih Titin sembari memegang tangan Kukun.
Mereka terdiam untuk beberapa detik.
Hanya suara desir angin yang terdengar.

Kukun merasakan air jatuh tepat di telapak tangan nya. Dalam genggaman tangan itu, Titin menangis.
Kukun terenyuh. Pelan namun pasti, Kukun rangkul bahu Titin
"Sayang, aku tahu hubungan kita ini begitu tak masuk akal. Aku yang sebentar lagi akan mengijak usia 32 tahun. Harus berhadapan dengan gadis cantik 15 tahun di hadapan ku ini. Tapi itulah cinta. Tak kan pernah memandang umur sekalipun kamu seharusnya memanggilku Om. Bagaimana? Aku hanya ingin melihat ketulusan mu, sayang. Hanya itu saja"
Titin makin terisak. Larut dalam tangisnya.
"Aku takut. Ini pertama kalinya untuk ku"
Kukun mengangkat dagu Titin "Sayang, tak perlu takut. Ada aku dan aku akan membimbingnya"
"Tapi, apakah ini akan sakit?" jawab Titin.
Kukun tersenyum sembari menggelengkan kepala "Bagaimana?"
Titin mengangguk angguk kecil yang berarti tanda kemenangan bagi Kukun.
Senyum lebar terpasang di wajah Kukun.

Mereka pun memasukin suatu ruangan.
"Duduk lah disini, sayang" Kukun membimbing Titin.
"Tenang, nikmati saja ini. Tidak akan ada rasa sakit" kembali Kukun menyakinkan.

........................

"Eeeerrrr aaah sakit, Kun. Sakit !!" teriak Titin.
"Tenang sayang. Tenang. Ini hanya sebentar. Nanti kamu akan terbiasa" jawab Kukun sambil terus memasukannya dan menggoyang nya.
"Ampuuuun Kukun. Cukuuuup. Aku sudaaaah.... aaaaaah"
Kukun tersenyum melihat reaksi Titin "Bagaimana sayang? Sudah mulai biasa kan? Sekarang coba lah"
Titin pun berdiri sambil mematung.
Melihat betapa anggun nya sepatu high heels itu di kaki mungilnya.
Bak putri, Titin berjalan lenggak lenggok.

"Iya Kun. Ternyata nyaman setelah nya." jawab Titin sambil masih berlenggak lenggok di dalam sebuah toko Sepatu Wanita ternama.

Keesokan harinya, tepat di hari Minggu, Kukun merasa bangga membawa kekasihnya di acara pesta pernikahan teman sekantornya dengan memakai High Heels yang kemarin di belinya.

minjem dari sini

Caecilia Ayu Wulandari Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.