Wednesday, April 9, 2014

FAJAR MENYERAAAANG!!!




Postingan lahir pas mepet. Seperti biasaaaaaaaaa. Gatau kenapa gue kalo ngelakuin kerjaan suka yang mepet-mepet. Tadi malem misalnya, kuliah jam 7 dengan mata kuliah Akuntansi Manajemen dan alhamdullilah super sekali gue presentase malam itu dengan tema Informasi Akuntansi Diferensial dan lebih super lagi gue nyiapin bahan presentase baru siangnya di tempat kerja. Padahal pembagian presentase itu udah dari sebulan yang lalu. Dan gue, CUEK.

"Trus gue peduli, cil?"

Yaudah sih. Cuma sharing aja karena sesuai judul diatas, Fajar Menyeraaaaaang!! Paham maksud dari judul diatas? Sama, gue juga nggak.

Akhir-akhir ini gue nemui hal yang menarik terkait dengan 9 April 2014. Gini....

7 April 2014, ngantor
Pagi sampe siang seperti biasa aja. Nyiapin surat jalan, buat nota faktur, input penagihan, nyusun aging piutang, dan laen sebagainya lah. Sampe di siang hari, salah satu temen kerja gue sibuk bergumul dengan handphonenya sambil ketawa-ketawa cekikikan. Gue simpulkan dia lagi galau #lah -_-

Sekitar 1 jam 8 menit 0,5 detik, dia menutup telponnya. Nutup pake kain kafan motif lope-lope. Ada yang salah? Kan NUTUP kan? Aaah gue nggak ngerti deh. Kemudian beberapa detik kemudian dia bilang
"Enak yo kalo nyari duit segampang ini"
Gue diem. Dia berkata lagi
"Mbak disuruh nyari 10 orang. Udah cari 5 bae, sisanyo masuk kantong. Lumayan"
Masih tetap diam.
"Ini nanti balek kerjo mbak ambek duitnyo"
Tetap diam.
"Padahal mbak dak tau siapo calon yang bakal dicoblos"
Dan gue masih terus diam.
"Sil? SIL!!!! Oalah pantes, tu kuping di sumpel ear-free"
#Ternyataguelagimakeearfree

Nanggepin perkataan dia yang biasa gue panggil mbak nini, kekepoan gue muncul.
"Emang dapet berapo, mbak?"
"Yang DPD dapet 50 ribu, kalo DPRD 100 ribu. Itu untuk mbak dewek, kan ini mbak nyari orang lagi, jadi jatah 5 orang masuk kantong. Kau hitung la, Sil. Enak kan? Sayang bae kau ndak tek KTP sini. Dapat jugo lah tu"
*percakapan di atas di sponsori "Suku Anak Dalam"-JAMBI*
#gaknyediainterjemahan

Hal ini yang menarik perhatian gue.
"TARIK TARIIIK!!" kata mbak nini sambil meNARIK perhatian gue. Si perhatian pun galau. Dan gue masih nggak ngerti apa maksudnya ini -_-

FAJAR MENYERAAAAAAAANG!!
Di sebelah barat gurun, sudah berkumpul kubu merah dengan lambang banteng nyeruduk pohon cabe. Sekitar ada 1.202 orang dengan 1.200nya membawa senjata canggih warna merah kuning kelabu...hijau juga dan biru. Meletus balon hijau, DAAAR!! #salahfokus. Dan 2 lagi dengan gagah beraninya berada di paling depan pasukan sambil mengibarkan bendera lambang kebanggaan mereka.

Berikut di sebelah timur gurun, berkumpul kubu kuning. Hanya ada 9 orang saja dan hebatnya tanpa membawa satu senjata pun. Penampilan 9 orang ini berkelas, dibalut jas hitam dengan masih bergelantungan struk harga 120.890 US dolar, kaki di tutupi oleh sepatu kulit buaya warna putih, mata berhiaskan kacamata item gede selayaknya orang pinggiran yang bilang "Pak, minta paak. Saya butaaaa", kemudian tangan mereka berkilauan karena beragam perhiasan macam jenis. Emas? Ada. Perak? Ada. Kuningan? Pun ada.

Dengan gagahnya mereka, sambil membawa bendera bertuliskan "FAJAR", mereka berjalan pelan-pelan kearah kubu merah. Kubu merah panik!! Mereka pun berteriak
"FAJAR MENYERAAAAAAAAAANG!!!!"
Sejak itulah para caleg mempunyai ide dengan sebutan "Serangan Fajar".

Sumpaaah, gue juga sadar kalo tulisan gue gak jelas banget, jadi gausah ngedumel gitu lah. Anggep aja lo lagi ngebaca tulisan di uang kertas seribu rupiah, uang kembalian dari abang-abang angkot yang isi tulisannya apa banget gitu.

Jadi, setelah kejadian di kantor yang bikin mata hati gue terbuka. Gara-gara itu gue jadi banyak gebetan lantaran mudah banget masuk ke hati gue. Di tanggal 9 April ini pun, dengan kemepetan gue buat tulisan ini.

COBLOS GUE PLIS!!
Sebulan sudah mata ini ngeliat pohon-pohon di pinggiran jalan ditempeli beragam rupa spanduk yang merintih "Coblos gueeeeeeee". Bagi yang memiliki kantong tebel, papan-papan reklame nan megah dan menantang di tengah jalan raya pun turut dipasang spanduk-spanduk. Beda nasib tapi sama maksud.

Gak sampe situ, semua media ikut digandrungi beragam bentuk iklan dengan maksud "Pilih saya demi masa depan Indonesia" walo terlalu sering mata gue rabun senja bikin ngebacanya jadi "Pilih saya demi kreditan mobil dan biaya liburan keluar negeri saya" gitu.

Dari yang blusukan ke tempat-tempat mereka yang kesusahan sampe menyumbang sana sini untuk mencari simpatik masyarakat. Semua dilakukan demi agar terpilihnya mereka.

MODUS ato MAGER
Beragam pertanyaan ada di benak gue. Mereka berkeliling mengintari ubun-ubun kepala.
"Apa sih tujuan mereka seperti itu?"
"Kenapa harus seperti itu?"
"Bagaimana nasib Satinah setelahnya?
"Siapa pembuat kebohongan besar tentang orang pertama yang ke bulan?"
"Kapan lo punya pacar?"
Segala usaha mereka agar terpilih itu dengan maksud apa? Kenapa mereka rela mengeluarkan beratus hingga berjuta rupiah demi nama mereka masuk dalam kepengurusan daerah maupun negara? Padahal gue yakin tugas setelah mereka terpilih itu berat banget. Menjadi bagian dari kepengurusan daerah misalnya, DPD dapil Jambi Selatan, musti memikirkan bagaimana cara agar ekonomi di daerah Jambi Selatan ini meningkat. Walaupun nantinya bakal dibagi-bagi tugasnya agar lebih ringan, tetap menjadi kepengurusan dengan judul "Wakil Rakyat" itu tugas yang berat kan? Itu yang ada di pikiran gue.

Blusukan mereka itu apakah tindakan nyata dari hati? Ato sekedar MODUS? Ato memang mereka MAGER?
Modus ini gue maksudkan hanya sekedar ngambil hati masyarakat saat itu. Membuat mereka yang melihat simpatik dan berdecak kagum. Hingga pada akhirnya masyarakat jatuh hati dengan beliau yang telah mengambil hati. Namun ternyata terselubung maksud gak bagus. Deskripsikan sendiri makna dari "maksud gak bagus".

Mager, bukan males gerak tapi gue buat menjadi MAu GErak. Mager dalam hal ini, mereka yang bukan hanya sekedar modus seperti kalimat-kalimat diatas. Mereka yang memang punya mimpi dan tekad kuat untuk mewujudkan mimpinya ini. Mimpi pun bukan semata untuk kepentingan sendiri, tapi untuk orang banyak. Mereka yang mager ini bisa jadi geram dengan keadaan Indonesianya yang sekarang ini atau bisa mencakup dari daerahnya dulu saja dan ingin terpilih agar dapat menuntaskan rasa geramnya.


Kalo menurut gue sih simple, semisal gue jadi calon anu, kenapa gue musti berusaha ngeluarin dana buat kampanye bahkan parahnya dengan cara serangan fajar hanya untuk agar terpilih? Itu berarti gue sadar diri kalo gue ini gak ada apa-apanya yang gak akan bikin masyarakat ngeliat gue sebagai calon anu. Dan gue juga paham bahwa tugas menjadi wakil rakyat itu berat. Nah jadi kesimpulannya, kalo udah kotor cara gue untuk dapat terpilih, maka niat gue pun juga sudah kotor kan?

Gue inget sama ucapannya Bu Tri Rismaharini, walikota Surabaya sewaktu beliau ditanya bagaimana perasaannya masuk di urutan pertama sebagai pesaing Joko Widodo dan melalui survey UI pun bu Tri Rismaharini berada di urutan pertama pula untuk Capres Alternatif di acara Mata Najwa.
"Di kasih tanggung jawab kok jadi saing-saingan. Berat loh punya tanggung jawab itu"
"Surabaya saja cobaannya seperti itu. Jadi presiden cuma 1, Gubernur 1, dan walikota pun 1. Sekian juta orang menggantungkan nasibnya sama kita yang 1 ini. Itu berat sekali"

Dari ucapan itu terkait dengan serangan fajar, gue jadi heran. Kenapa mereka rela mengeluarkan uang sedemikian banyaknya untuk MENDAPATKAN TANGGUNG JAWAB yang gue tau itu berat?



Jambi, 9 April 2014 18.51 wib - seusai mandi dengan noda jari kelingking tangan kanan pudar

pict source : KLIK!!
KLIK!!
KLIK!!
KLIK!!
Caecilia Ayu Wulandari Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.